Pemutilasi Sales Cantik di Bandung Tak Dituntut Mati, Ini Alasannya..

shares

M Kholili tak dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum dalam kasus mutilasi terhadap sales cantik yang juga istrinya Siti Saidah alias Nindy.
Terdakwa Kholili hanya dituntut hukuman 14,5 tahun penjara karena dianggap melanggar pasal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Bagaimana pandangan ahli?
Kriminolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Yesmil Anwar menilai pasal KDRT yang dituntut jaksa terhadap terdakwa M Kholili tidak bisa berdiri sendiri. "Kalau menurut saya dalam pandangan saya meskipun belum melihat putusannya, ini enggak bisa berdiri sendiri. Harus di-juncto-kan misalnya pembunuhan berencana dengan kekerasan yang menyebabkan kematian," ucap Yesmil saat dihubungi, Rabu (11/7/2018).
Yesmil menjelaskan ada dua perbedaan dalam kasus mutilasi di Karawang. Dia memandang mutilasi dapat dilakukan secara berencana atau tidak.
Menurut Yesmil, mutilasi dapat dilakukan apabila terjadi pembunuhan berencana lalu merencanakan mutilasi. Lalu, mutilasi juga bisa dilakukan secara spontanitas apabila pembunuhan dilakukan tidak berencana dan memutilasi untuk menyembunyikan jasad dari orang lain.
"Kalau ke KDRT itu sebetulnya hemat saya setidaknya tidak selalu mengakibatkan kematian. Jadi mungkin KDRT kekerasan yang menyebabkan kematian," ujarnya.
Namun apapun jenis mutilasi oleh Kholili terhadap istrinya, Yesmil menilai hal itu tak dapat hanya menggunakan pasal KDRT. menurut dia, tuntutan yang dilakukan jaksa belum sempurna.
"Mungkin dia (jaksa) memakai KDRT karena kekerasan yang mengakibatkan kematian. Tapi ada tahapan lain mutilasi, perusakan mayat. Jadi sebenarnya menurut saya barangkali ini masih bersifat belum sempurna. belum memberikan gambaran delik yang dilakukan dari pasal yang dilekatkan," kata Yesmil.

Related Posts