Standar baru tekanan darah diterapkan di AS

shares

Pedoman baru untuk memantau tekanan darah belum lama ini telah dirilis di Amerika Serikat. Isinya mencakup perubahan klasifikasi dan standar tekanan darah tinggi (hipertensi) pada orang dewasa, hingga pemantauan penyakit yang lebih akurat.
Tujuannya membantu pasien hipertensi, agar dapat mencegah dan mengendalikan risiko penyakit lebih dini dengan cara yang tepat. Yakni melalui perubahan gaya hidup, dan sebisa mungkin menekan penggunaan obat.
Pedoman baru yang dipresentasikan pada pertemuan asosiasi jantung dan dipublikasikan di Hypertension dan Jurnal American College of Cardiology ini diselesaikan selama tiga tahun.
Acuannya didasarkan pada tinjauan ketat terhadap hampir 1.000 studi tentang hipertensi. Termasuk studi 2015 yang disebut SPRINT dan sempat kontroversial karena menurunkan hipertensi terlalu rendah berakibat kematian.
Pedoman yang ditetapkan oleh American Heart Association (AHA), American College of Cardiology dan sembilan organisasi profesional kesehatan lainnya ini juga merupakan temuan penting yang menjawab isu perdebatan di kalangan medis, mengenai seberapa rendah seharusnya pasien mengurangi tingkat hipertensi. Demikian dikabarkan The Washington Post dan LiveScience.

Perubahan standar tekanan darah pada pedoman baru

Secara garis besar, isi pedoman baru menyatakan semakin rendah jumlah tekanan darah, akan semakin rendah risiko kardiovaskular akibat hipertensi. Pun sebaliknya. Ini merupakan revisi diagnostik resmi pertama sejak tahun 2003.
Terdapat lima standar tekanan darah pada pedoman baru, dengan rincian sebagai berikut:
  • Normal: Kurang dari 120/80 mmHg
  • Meningkat (elevated blood pressure): 120-129 / kurang dari 80 mmHg
  • Hipertensi tahap 1: 130-139 / 80-89 mmHg
  • Hipertensi tahap 2: Setidaknya 140/90 mmHg
  • Krisis hipertensi: Lebih dari 180/120 mg Hg
Standar tekanan darah normal tidak berubah dari versi sebelumnya, yang juga berlaku sama di Indonesia.
Untuk membaca hasil tekanan darah, satuan yang digunakan adalah millimeter merkuri atau mmHg. Angka di atas (yang muncul duluan) disebut tekanan sistolik, merujuk pada jumlah tekanan di arteri selama otot jantung berkontraksi.
Sementara angka di bawah (yang muncul belakangan) disebut tekanan diastolik, merujuk pada tekanan darah saat otot sedang tidak bekerja.
Perubahannya, seluruh angka hipertensi pada pedoman baru menurun. Dengan kata lain, Anda yang tadinya tidak tergolong hipertensi, boleh jadi sekarang berpotensi.
Kategori "meningkat" kini digunakan untuk menggantikan kategori prehipertensi atau "high normal" (normal-tinggi) yang telah dihilangkan--rasio 120-139/80-89.
Selain itu, tekanan darah 130/80 (tahap 1), kini termasuk kategori hipertensi berisiko kardiovaskular. Angka ini turun dari standar sebelumnya di mana hipertensi yang dianggap berisiko adalah 140/90.
"Tahap 1 adalah titik di mana kita harus lebih agresif dalam menyerang hipertensi," kata Dr. Paul Whelton, ketua komite penulisan pada pedoman baru dan profesor epidemiologi di Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine pada HuffingtonPost.
"Tidak relevan lagi menyebut seseorang dengan sebutan pre(hipertensi). Mereka perlu menurunkan angka (tekanan darah) karena pada tahap itu risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan strok telah meningkat dua kali lipat dibanding orang dengan tekanan darah lebih rendah," jelasnya.
Tekanan darah adalah kekuatan darah yang mengalir melalui pembuluh darah. Bila konsisten terlalu tinggi, ini bisa merusak jaringan halus di dalam arteri, sehingga mengurangi kemampuannya untuk membantu pembuluh darah meluas atau melebar ketika dibutuhkan, dan selanjutnya meningkatkan tekanan darah.
Perputaran tersebut menyebabkan bermacam komplikasi seperti serangan jantung, gagal jantung, strok, masalah pada aliran darah ke kaki dan ginjal, masalah penglihatan, hingga disfungsi seksual.
Hipertensi juga kerap disebut "silent killer" karena jarang diketahui kerusakannya sampai sudah terlambat.

Langkah akurat memeriksa tekanan darah

Pedoman baru juga menjelaskan langkah-langkah yang tepat untuk memeriksa tekanan darah agar hasilnya akurat. Tak hanya berlaku bagi petugas kesehatan, tapi juga pasien. Khususnya yang melakukan pemantauan sendiri di rumah.
Beberapa langkah dasar yang disarankan di antaranya tidak bicara sebelum atau selama tes; diam dulu selama 5 menit sebelum membaca hasil tes; posisi duduk dengan kaki di bawah dan punggung tegak, jangan berbaring; lakukan tes setidaknya dua kali untuk menghindari kesalahan membaca hasil.
Hal Ini terkait studi pada pertengahan tahun 2017 yang menyebut banyak alat pengukur tensi darah tidak akurat. sekitar 70 persen alat pengukur darah punya selisih 5 mmHg, yang terbilang signifikan secara klinis. Adapun 30 persen lainnya mencapai selisih 10 mmHg.

Rekomendasi mengendalikan hipertensi

Berdasarkan pedoman baru dirangkum ABC News, AHA merekomendasikan modifikasi gaya hidup sebagai alternatif pengobatan terbaik.
Pertama yaitu perubahan diet, dengan mengonsumsi buah, sayuran, dan menghindari makanan berkandungan lemak jenuh. Pun melakukan diet rendah sodium dan kaya kalium.
Kedua, menurunkan kelebihan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal. Ketiga, berolahraga dengan latihan aerobik rutin sekitar 90-150 menit per minggu--bermanfaat paling banyak menurunkan tekanan darah.
Keempat, dengan membatasi atau mengurangi konsumsi alkohol bagi peminum, karena itu terbukti menurunkan tekanan darah. Kelima, bagi yang perubahan gaya hidupnya tidak optimal, berkonsultasi pada dokter disarankan.

Related Posts