iklan floating

Breaking News

http://103.10.200.61/home http://103.10.200.57/

Menyibak Artis Berbulu Ketiak

DI sebuah klub malam, Eva Arnaz bernyanyi enerjik. Pakaian dengan lengannya yang terbuka membuat bulu ketiaknya terlihat.
Saat itu, Eva berperan di dalam film Lima Cewek Jagoan (1980). Dalam film laga ini, selain Eva, bermain pula empat aktris cantik, yakni Debby Cynthia Dewi, Yatti Octavia, Lydia Kandou, dan Dana Christina.
Eva, yang berperan di 43 judul film selama kariernya di layar lebar, di kemudian hari menjadi ikon bintang film yang punya bulu ketiak lebat. Banyak filmnya menampilkan bulu ketiaknya yang menjuntai.
Keluarga Eva pernah mempermasalahkan adegan syur dalam film-film yang dimainkannya. Namun keluarga, dan barangkali penonton film kala itu, tak pernah sekalipun mempermasalahkan bulu ketiaknya yang lebat.
Ajimat dan Seni
Tampaknya bulu ketiak bagi sejumlah artis pada 1970-an hingga 1980-an merupakan hal yang wajar. Bisa jadi salah satu standar kecantikan dan tren.
Jauh sebelum karier Eva meledak, Dally Damayanty merupakan pragawati dan aktris film yang percaya diri dengan bulu ketiaknya.
Menurut Varia, 16 Maret 1975, Dally terjun ke dunia peragawati pada 1973 dan kariernya langsung melejit. Dally kemudian menjadi peragawati yang menonjol dan ditampilkan oleh desainer Fauzan Ramon dalam acara peragaan busana pada malam Tahun Baru 1974 di Taman Wisma Nusantara, Jakarta.
Pada 1974, ia ikut keliling Asia untuk peragaan busana. Lantas, sepulang dari tur itu, ia pun disodori kontrak bermain di film Dasar Rezeki (1974). Tak hanya itu, Dally yang berani berpose mengenakan bikini di sejumlah media juga menjadi objek reklame Ajinomoto.
“Apakah sukses Dally yang subur, dengan jerawat di mukanya ini berkat ‘ajimat’ bulu keteknya yang lumayan lebatnya ini, tentu Dally sendirilah yang lebih tahu bukan?” kata wartawan Varia, 16 Maret 1975. Wartawan Varia menyebut bulu ketiak Dally itulah sex appeal yang ia miliki.
Selain Dally, aktris dan foto model Waty Siregar percaya diri berpose genit dengan pakaian lengan kanan terbuka dan bulu ketiak terurai. Foto itu merupakan hasil jepretan Cendrawasih 2000 di sampul belakang majalah Selecta edisi 12 Februari 1979. Di dalam kalender 1978 dan 1979, foto-foto seksi Waty pun terpampang.
“Tapi, itu kan rasa seni, penuh keindahan, dan saya tidak berbugil,” kata Waty, yang pernah bermain di 30 judul film selama kariernya, kepada Selecta, 12 Februari 1979.
Ratu Ketiak
Cara Joseph Oliviero dalam artikelnya “Segi-Segi Keindahan Ketiak”, dimuat Sport Fashion Film edisi Februari 1973, menulis orang-orang di Italia dan Turki berpendapat bulu ketiak merupakan keindahan, karena memberikan kesan merangsang.
“Ada semacam tendensi pada mereka yang menyatakan bahwa perempuan yang punya bulu ketiak lebat punya kemampuan seks besar. Sehingga orang Italia dan Turki pantang mencukur habis bulu ketiaknya,” tulis Cara.
Pada awal 1970-an, yang menjadi ikon bulu ketiak bukanlah Eva Arnaz, melainkan Yana Schurman. Yana seorang model, yang hanya bermain di satu judul film PatGulipat (1973).
Dalam artikel Cara, terpampang foto Yana dengan bulu ketiaknya, memakai keterangan: “Pantas dijuluki Ratu Ketiak. Kelihatan sexy dan pantang dicukur dari sejak lahir.”
Meski demikian, tak semua perempuan ingin memelihara bulu ketiak. Menurut Cara, memangkas bulu ketiak menjadi sebuah kebiasaan di luar negeri sejak berkembangnya mode pakaian tanpa lengan pada 1924. Melihat peluang, profesor Kromayer menciptakan alat pencabut bulu ketiak. Namun alat Kromayer ini masih meninggalkan bekas dan terasa sakit bila digunakan.
Seiring waktu, tren aktris memelihara bulu ketiak kian surut. Pandangan masyarakat pun berubah.
Meski begitu, di luar negeri menunjukkan hal yang berbeda. Di sana, bulu ketiak aktris justru sedang tren. Sejumlah aktris, seperti Madonna dan Julia Roberts, justru pernah menampilkan ketiak mereka dengan bulu alami.