iklan floating

Breaking News

http://www.indopoker.in/ http://www.agenpoker123.org/ref.php?ref=SAPHIRA93

Tak Perlu Ijazah, Profesi Ini Berpenghasilan Menjanjikan

24JamOnline.com - Menjadi petani gula aren harus membiasakan diri bangun subuh. Nixon Rorong, Hukum Tua Talaitad Utara, Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan menceritakan kepada Tribun Manado Rabu (24/1/2018) saat masih sekolah sudah mengerjakan pekerjaan membuat gula aren.


"Saya harus bangun subuh sebelum pukul 05.00 Wita untuk memasak air nira dari pohon seho (enau) yang telah disiapkan semalam," ucap Nixon.

Perlengkapan yang wajib disiapkan adalah tempat memasak air nira dan kayu bakar. Dalam sehari proses pembuatan gula batu hanya dua kali saja. Kalau sudah siang hari, tak bisa dimasak.

Masak sampai kering air nira dan menjadi gula. Kadar air sampai habis. Pembakaran sampai suhu 100 derajat selama kurang lebih dua sampai tiga jam. Wajib dijaga jangan sampai apinya berkurang atau lebih karena akan berpengaruh pada hasilnya.Kalau ada lima gelon air nira harus siapkan dua tungku atau dua tempat masak. Jika panen 20 gelon air nira, maka disiapkan delapan tungku atau delapan tempat masak air nira untuk dimasak sampai kering.

Pagi hari harus dipanen dan langsung dimasak begitu juga saat sore panen langsung dimasak. Jika tidak demikian, maka air nira sudah asam dan tak bisa diproses menjadi gula.

Jadi nira yang sudah dipanaskan akan dimasak dengan nira hasil sadapan esok paginya. Nira aren dimasak dengan api yang sedang saja sambil sesekali diaduk. Buang buih yang keluar saat nira sudah mendidih. Membuang buih ini akan membuat gula bisa keras saat dicetak nantinya. Membuat gula aren memang membutuhkan proses yang berbeda dari membuat cap tikus.

Dalam sehari bisa dua kali panen dan memasak air nira menjadi gula aren. "Waktu masih sekolah, saya harus bangun subuh untuk memasak air nira dan saat pulang sekolah juga akan melanjutkan pekerjaan membuat gula aren," kenangnya.

Harga gula aren di pasaran sekitar Rp 15.000. Kalau produksi sendiri biasanya mencapai 15-25 gula batu. Ketika produksi di atas 30-40 gula batu sudah harus menggunakan tenaga kerja lain karena volumenya lebih banyak. Karena mengangkat kayu api dan panen air nira di pohon seho butuh tenaga.

Kalau bekerja sendiri bisa mencapai 25 batu batu. Hasilnya Rp 375 ribu. Kalau mencapai 40 batu hasilnya Rp 600 ribu. Bila ada 200 petani gula aren, tiap orang produksi Rp 375 ribu maka total nilai produksi Rp 75 juta.

Terpisah, Ferdy Tumanduk (60), petani aren Desa Wanga, Kabupaten Minsel menambahkan, selama lebih dari 20 tahun menggantungkan hidupnya dari hasil pohon seho dengan membuat gula aren.

Kedua profesi sebagai pembuat cap tikus dan gula aren sudah pernah dilakukan Ferdy. Ia menjelaskan, kalau enam liter air nira dapat menjadi 1 kilogram gula aren.

Desa Wanga memang produksi gula batu dan telah dipasarkan ke daerah Sulut bahkan keluar daerah.
Seperti Pasar Amurang, Manado, Sangihe, dan Ternate.

"Kalau saya mengolah dua lokasi dengan hasil berbeda. Ada 15 kg dan 9 kg selama sehari. Jika totalnya (24 kg) dikalikan Rp 12.500 per kg hasilnya Rp 300 ribu per hari," ungkapnya.

Kendalanya ketika harga turun, maka gaji tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Selain itu, kendalanya bahan bakar utama yakni kayu kering. Setiap hari wajib ke kebun untuk mengolah karena air nira sehari harus dua kali panen.

"Jadi sangat berharap harga gula aren selalu stabil sehingga para petani dapat merasakan hasil bertani gula aren," ujar dia.